Minggu, 23 November 2014

MINIMNYA PENGETAHUAN GURU TENTANG PEMAMFAAT MEDIA TIK DALAM PEMBELAJARAN


Di era modern seperti sekarang ini perkembangan tekhnologi merupakan sebuah keharusan           yang harus di ikuti oleh semua pihak dan seluruh komponen maasyarakat Indonesia. Seperti kita tahu pada tahun milinium ini banyak sekali penemuan-penemuan yang berbasis tekhnologi dan terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan khalayak banyak
Pembelajaran disekolah pada saat ini mulai disesuaikadengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi  perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan. Perkembangan pesat dibidang teknologi informasi khususnya internet, mempercepat aliran ilmu pengetahuan yang menembus batas-batas di
mensi ruang, birokrasi, kemapanan, dan waktu. Program-program di internet bukan hanya menampilkan data dan informasi yang dapat ditransmisikan dengan kecepatan tinggi, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara cepat oleh penggunanya. Dan tentu saja kondisi ini berpengaruh pada kebiasaan dan budaya pendidikan yang dikelola selama ini.

Disadari atau tidak kita sedang menuju era globalisasi. Pengaruh globalisasi ini semakin terasa dengan semakin banyaknya saluran informasi dalam berbagai bentuk media. Media telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. Di negara yang telah maju, media telah mempengaruhi kehidupan hampir sepanjang waktu. Waktu yang terpanjang, yang paling berpengaruhi itu adalah waktu yang digunakan untuk bersekolah.
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh – pengaruh psikologi terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Seorang guru profesional  dalam melaksanakan proses pembelajaran dituntut untuk memiliki gagasan, inovasi dan kreatifitas dalam mendesain pengajaran. Dalam hal ini agar proses pembelajaran yang telah tertata sesuai dengan desain yang telah dimodivikasi supaya dapat membangun komunikasi interaktif dengan siswa dengan mengedepankan effisiensi dan efektifitas sesuai dengan tujuan pembelajaran secara hierarkis.
Kemajuan dan perkembangan teknologi sudah demikian menonjol, sehingga penggunaan alat-alat bantu mengajar seperti alat-alat audio visual serta perlengkapan sekolah disesuaikan dengan perkembangan jaman tersebut. Dan juga harus disesuaikan dengan tuntutan kurikulum sesuai dengan materi, metode, dan tingkat kemampuan belajar siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik disekolah.
  Untuk mencapai hasil maksimal dan terlaksananya secara kontinutas program kegiatan yang telah dirancang peran dan fungsi media instruksional edukatif merupakan urgensitas dalam proses pembelajaran. Peranan dan fungsi media sebagai instruksional edukatif sangat dipengaruhi oleh ruang, waktu, sarana dan prasarana yang memadai.
       Kukulum 2013 memberikan peluang kepada tiap-tiap satuan pendidikan terutama pendidik  yang dalam hal ini merupakan satu komponen yang langsung berperan dalam proses pembelajaran. Telah banyak perubahan paradigm dalam proses pendidikan khususnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran menjadi lebih mementingkan peran peserta didik dan karakteristik sumber daya yang ada pada tiap-tiap satuan pendidikan. Pembelajaran berpusat pada siswa, oleh karenanya siswalah yang diharapkan dapat berperan aktif dalam mengeksplorasi dan menginterpretasikan pengetahuan dan permasalahan baru yang dibandingkan, dikombinasi dan di analisa dengan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Peraturan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional  Pedidikan menyatakan bahwa “ setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi  perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan , buku dan sumber belajar lainnya , bahan habis pakai ,serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan”.
Proses pembelajaran lebih diutamakan dari pada hasil yang diperoleh . pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) cendrung lebih memperlihatkan paradigma pendidikan saat ini, sebagaimana yang terkandung dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ataupun pada kurukulum 2013. Hal ini merupakan satu hal mengapa media pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran.
Undang –undang Republik Indonesia  Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 10 menegaskan bahwa guru harus memiliki kompetensi pedagogik kepribadian sosial dan professional. Salah satu unsur kompetensi pedagogik adalah guru mampu mengembangkan dan memanfaatkan media dan sumber belajar. Hal ini ditegaskan lagi dalam Peraturan  Mentri Pendidikan Nasional RI Nomor  41 tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk satuan pendidikan dasar dan menengah bahwa dalam pembelajaran, guru wajib menggunakan sumber belajar.
Salah satu komponen paling penting untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran adalah dengan penggunaan media dalam pembelajaran. Dengan cara ini diharapkan siswa dapat meningkatkan motivasi belajarnya sehingga dapat mencapai indicator pembelajaran. Hal ini berpedoman pada pemanfaatan media pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Selain itu, guru memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas siswa dalam proses belajar.
Bukan saja dikarenakan media atau alat peraga yang baik yang dapat meningkatkan pemahaman siswa , namun guru juga harus pandai memanfaatkan semua media atau alat peraga yang disesuaikan dengan materi pebelajaran yang akan diajarkan dengan seefesien mungkin. Pada saat ini pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, berbagai kemajuan di bidang teknologi dan informasi telah mempengaruhi perilaku masyarakat. Dari perkembangan teknologi dan informasi ini telah memunculkan berbagai macam media dan sarana informasi yang telah menyebar dan dipunyai secara luas masyarakat kita, seperti televisi, komputer, handphone, vcd dan dvd player , teknologi internet dll. Dari kondisi seperti ini anak-anak sekarang lebih sibuk mengikuti acara-acara televisi terutama musik yang hampir setiap hari memunculkan lagu dan band-band baru yang disadari atau tidak telah menjadi idola baru anak-anak kita. Juga teknologi internet dengan booming facebooknya telah sangat mempengaruhi perilaku anak-anak kita. Kehadiran media informasi dan media sosial kehadiran teknologi internet sepertinya telah menggantikan peranan guru di kelas. Ini menjadi tantangan bagi guru saat ini untuk melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan dan media internet dan TIK yang ada disekitarnya untuk mendapatkan perhatian anak serta mampu meningkatkan pemahaman anak .
Pada saat mengajar, guru harus lebih banyak menggunakan bermacam-macam strategi mengajar dengan menggunakan macam-macam pendekatan, metode dan model pembelajaran dan media pembelajaran yang akan menarik minat dan sikap siswa dalam mempelajarinya. Salah satu desain pembelajaran yang dapat dirancang oleh guru adalah pembelajaran dengan memanfatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai media pembelajaran. Beberapa software TIK yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran adalah software presentasi seperti microsoft powerpoint, macromedia flash dan lain-lain. Selain itu guru dapat memanfaatkan software lain seperti: video tutorial, geogebra ataupun screen cast agar merangsang siswa untuk lebiih aktif belajar.
           Pada kenyataannya akhir-akhir ini banyak diantara para  guru yang belum terbiasa mengembangkan media pembelajaran. Media pembelajaran masih sering terabaikan      dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran. Bahkan ada kecendrungan bahwa guru belum menggunakan media yang tersedia secara optimal. Dengan demikian perlu penggunaan media didasarkan pada pertimbangan praktis-teoritis seperti efesiensi dan evektifitas pembelajaran dan merupakan  amanat undang –undang. Padahal seharusnya penggunaan media dalam pembelajaran  merupakan salah satu cara yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap setiap pembelajaran berlangsung.
Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran akan sangat membantu guru dalam menyajikan pembelajaran, juga akan menarik minat belajar siswa serta membuat pembelajaran menjadi dinamis. Akan tetapi masih banyak guru yang belum mampu menggunakan komputer dan menguasai TIK, sehingga sangat perlu adanya pelatihan teknis TIK bagi semua guru agar mampu meningkatkan kompetensi mengajarnya. 




Selasa, 21 Oktober 2014

Langkah-Langkah Pembelajaran Cooperative Learning tipe Make a Match


A. Pengertian Metode Pembelajaran Cooperative Learning tipe Make a Match

Dari sekian banyak metode pembelajaran yang telah ada, salah satunya adalah metode pembelajaran cooperative learning tipe make a match. Sebagaimana dikutip dalam Hasan Fauzi Maufur, Metode make a match (mencari pasangan) pertama kali dikembangkan oleh Lorna Curran (1995) dalam mencari variasi mode berpasangan. Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia.  Metode ini cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan metode ini.

B. Langkah-Langkah Metode Pembelajaran Cooperative Learning tipe Make A Match

Agar sebuah metode pembelajaran berjalan secara sistematis, maka setiap metode pembelajaran dilengkapi dengan langkah-langkah pembelajarannya. Pada  metode pembelajaran tipe make a match adalah memiliki langkah-langkah  sebagai berikut:
1) Hal-hal yang perlu dipersiapkan jika pembelajaran dikembangkan dengan make a match adalah kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainya berisi jawaban dari pertanyaan tersebut.

2) Langkah berikutnya adalah guru membagi komunitas menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa karu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu-kartu berisi jawaban-jawaban. Kelompok ketiga adalah kelompokpenilai. Aturlah posisi kelompok-kelompok tersebut berbentuk huruf U. Upayakan kelompok pertama dan kedua berjajar saling berhadapan.

3) Jika masing-masing kelompok sudah berada di posisi yang telah ditentukan, maka guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama maupun kelompok kedua saling bergerak mereka bertemu, mencari pasangan pertanyaan-jawaban yang cocok. Berikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi. Ketika mereka diskusi alangkah baiknya jika ada musik instrumentalia yang lembut mengiringi aktivitas belajar mereka. Hasil diskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara anggota kelompok pembawa kartu pertanyaan dan anggota kelompok pembawa kartu jawaban.

4) Pasangan-pasangan yang sudah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaanjawaban kepada kelompok penilai. Kelompok ini kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan-jawaban itu cocok. Setelah penilaian dilakukan, aturlah sedemikian rupa kelompok pertama dan kelompok kedua bersatu kemudian memosisikan dirinya menjadi kelompok penilai. Sementara, kelompok penilai pada sesi pertama tersebut diatas dipecah menjadi dua, sebagian anggota memegang kartu pertanyaan sebagian lainnya memegang kartu jawaban. Posisikan mereka dalam bentuk huruf U. Guru kembali membunyikan peluitnya menandai kelompok pemegang kartu pertanyaan dan jawaban bergerak untuk mencari, mencocokkan, dan mendiskusikan pertanyaan-jawaban. Berikutnya adalah masing-masing pasangan pertanyaan-jawaban menunjukkan hasil kerjanya kepada penilai.

5) Perlu diketahui bahwa tidak semua peserta didik baik yang berperan sebagai pemegang kartu pertanyaan, pemegang kartu jawaban, maupun penilai mengetahui dan memahami secara pasti apakah betul kartu pertanyaan-jawaban yang mereka pasangkan sudah cocok. Demikian halnya bagi peserta didik kelompok penilai. Mereka juga belum mengetahui pasti apakah penilaian mereka benar atas pasangan pertanyaan-jawaban. Berdasarkan kondisi inilah guru memfasilitasi diskusi untuk memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik mengonfirmasikan hal-hal yang mereka telah lakukan yaitu memasangkan pertanyaan jawaban dan melaksanakan penilaian.
Semoga bermanfaat..

Gambar gambar di bawah ini adalah salah satu contoh kegiatan pembelajaran yang mengunakan metode Pembelajaran Make A Match yang telah di laksanakan di MTsN koto Baru Solok Sumbar dalam mata pembelajaran Alquran Hadits Kelas IX 






Sumber:
Isjoni, Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi antar Peserta Didik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2009)

Maufur, Fauzi, Hasan, Sejuta Jurus Mengajar Mengasyikkan (Semarang: Sindur Press, 2009)

Suprijono, Agus, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM (Surabaya: Pustaka Pelajar,2009)

Rawalumaili. S.Ag,  Dokumentasi  Pribadi